Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
DANNY AJAR BASKORO

Powered by Blogger

Jumat, 27 Maret 2009

Permasalahan Paedagogis Yang Muncul Akibat Masuknya Benda -Benda TEKNOPRAKTIS Dalam Masyarakat


Tidak dapat dipungkiri bahwa dengan meningkatnya teknologi komunikasi menyebabkan hubungan antar individu semakin dekat, khususnya dengan muncul dan berkembangnya telepon seluler atau handphone. Hubungan antar individu, antar kelompok, antar suku, dan antar bangsa sudah tidak dibatasi oleh dimensi keruangan maupun kewilayahan. Seseorang dapat berkomunikasi dengan yang lain sudah tidak hanya antar kota, antar daerah, tetapi sudah antar negara. Dimanapun seseorang berada dapat kita jangkau dengan handphone. Seolah-olah dunia sudah tanpa batas. Ilmu pengetahuan dimanapun dan kapanpun dapat terakses melalui media ini. Tetapi pada sisi yang lain juga membawa permasalahan tersendiri, diantaranya:a.Karena ada telepon seluler, terutama terjadi pada masyarakat kelompok menengah ke atas bahwa berkomunikasi yang biasanya dilakukan yaitu bersifat silaturahmi atau anjang sana sedikit demi sedikit akan terkikis. Kebersamaan dalam tatap muka juga berkurang akibatnya kegiatan-kegiatan yang bersifat kebersamaan lambat laun menjadi sirna. Gotong royong, kerja bhakti lambat laun sudah ditinggalkan. Hal ini dapat mengancam rasa persaudaraan, rasa senasip sepenanggungan, sebangsa dan setanah air, persatuan dan kesatuan bangsa. Inilah yang mengancam pendidikan kewarganegaraan.
b.Disamping itu membanjirnya benda-benda teknopraktis yang berupa telepon seluler, bila dilihat dari sisi ekonomi, maka benda tersebut tidak mendidik hidup hemat (ekonomis), khususnya bagi lapisan masyarakat menengah ke atas. Masyarakat terdidik untuk hidup lebih konsumtif, terutama karena dengan adanya handphone kita dengan mudah diberi informasi, iklan-iklan yang acapkali menggiurkan bahkan mengalahkan berfikir rasional. Kita terbawa pada arus yang irasional dari segi ekonomi. Kita sering tergiring oleh iklan yang berembel-embel hadiah yang menggiurkan, tetapi kenyataannya menjerumuskan. Tetapi bagi lapisan masyarakat bawah, hadirnya handphone bukan sebagai kebutuhan hidup melainkan sebagai gaya hidup. Fungsi handphone hanya sebagai ukuran status sosial. Alasan beli handphone hanya karena mereka tidak ingin dikelompokkan kedalam kelas pinggiran.
Berkembangnya media massa, baik cetak maupun elektronik misalnya: televisi, radio dan surat kabar dapat menyebabkan kita dapat menerima informasi darimanapun, kapanpun, dan apapun. Informasi-informasi dapat masuk dengan bebas ke rumah, bahkan anakpun dapat mengundangnya sendiri. Informasi dari belahan bumi manapun dapat diakses bahkan aksesnyapun dapat secara langsung. Kejadian-kejadian yang tejadi di manca negara dapat dengan mudah dan segera kita ketahui. Ilmu pengetahuan dan teknologi terbaru juga dapat kita akses dengan mudah. Hal ini akan berpengaruh terhadap perkembangan pendidikan dan kebudayaan kita. Pola hidup kitapun dapat berubah karenanya. Pada sisi yang lain perkembangan media massa baik cetak maupun elektronik dapat membawa dampak yang kurang menguntungkan. Inilah dilema dalam pembelajaran pendewasaan masyarakat. Sebagian besar keluarga di Indonesia masih menempatkan televisi di ruang keluarga. Tetapi juga tidak jarang kita jumpai, televisi sudah masuk ke kamar anak-anak, hal ini biasanya untuk keluarga lapisan masyarakat menengah keatas. Celakalah para orangtua yang menempatkan televisi di kamar anak-anaknya, karena mereka telah meletakkan racun pikiran tepat di jantung sasaran. Salah satu dampak negatif televisi adalah melatih anak untuk berpikir pendek dan bertahan berkonsentrasi dalam waktu yang singkat (short span of attention). Sekarang banyak dijumpai anak-anak yang dicap malas belajar. Anak sering mengeluh capek kalau disuruh belajar. Kurang atau tidak bisa berkonsentrasi. Mungkin mereka bukan malas belajar. Tetapi otak mereka sudah tidak mampu untuk diajak berkonsentrasi menyerap bahan pelajaran dalam jangka waktu lebih lama dari jarak di antara dua spot iklan. Otak mereka tidak terlatih untuk berkonsentrasi, berfikir kritis apalagi kreatif. Inilah akibat pengondisian acara televisi yang cenderung melatih kita pasif.
Televisi begitu dahsyat pengaruhnya, lalu bagaimana dengan komputer? Apakah komputer juga berdampak separah televisi? Sejumlah penelitian bidang teknologi pendidikan menyatakan bahwa komputer memiliki dampak negatif terhadap pendidikan dan perkembangan anak sama banyaknya. Menurut Paul C Saettler dari California State University, Sacramento (dalam Nababan:2002), hasil tersebut muncul karena banyak penelitian membandingkan pendidikan yang konvensional dan yang dibantu teknologi tidak pernah berhasil melakukan perbandingan setara karena banyaknya aspek yang tidak teramati. Satu hal yang pasti, interaksi anak dan komputer yang bersifat satu (orang) menghadap satu (mesin) mengakibatkan anak menjadi tidak cerdas secara sosial. Seperti halnya televisi, meletakkan komputer dengan CD-ROM di dalam kamar anak sama bahayanya. Hal ini selain memungkinkan anak terlalu sibuk bermain game, komputer dengan CD-ROM memungkinkan masuknya tayangan yang tidak terpuji ke kamar anak tanpa sepengetahuan orangtua. Karena anak dapat menayangkan sesuai keinginannya.
Masuknya benda-benda teknopraktis misalnya televisi, VCD ke masyarakat kita khususnya masyarakat pedesaan (lapisan masyarakat bawah) dapat semakin berkurangnya waktu untuk bercerita tentang sejarah, hikayat atau peristiwa-peristiwa yang lain. Ketika televisi belum diproduksi secara massal, di desa-desa baru ada satu atau dua televisi. Masyarakat desa cenderung berkumpul untuk melihat televisi secara bersama-sama. Mereka merasakan bahagia bersama-sama sedihpun bersama-sama. Mereka merasa senasip seperjuangan, merasa satu saudara, satu keluarga. Hal ini berdampak semakin terpupuknya kebersamaan, kekompakan dan persatuan. Tetapi setelah televisi diproduksi secara massal, maka masing-masing keluarga, masing-masing rumah telah memiliki televisi. Bahkan sering kita jumpai dalam satu rumah telah memiliki lebih dari satu televisi. Akibatnya sudah tidak dijumpai lagi masyarakat desa berkumpul, bercengkerama untuk melihat televisi secara bersama-sama. Masyarakat cenderung menghabiskan waktunya di rumah masing-masing. Rasa senasip seperjuangan sudah pudar. Rasa persaudaraan juga pudar. Kebersamaan semakin pudar, masyarakat lebih individualis lambat laun akan mengurangi bahkan menghancurkan persatuan.
Masuknya internet ke lingkungan kita di satu sisi sangat menyenangkan, tetapi disisi lain, internet hadir persoalan barupun hadir. Apalagi yang mengkonsumsi internet adalah anak-anak, dan keluarga yang memiliki lebih dari satu komputer dirumahnya Suatu dilema teknologi tersendiri. Karena dengan adanya internet kita dapat mengakses segala informasi. Informasi tersebut ada yang bersifat positif dan negatif, baik ditinjau dari segi etika, moral, agama, maupun ekonomi. Internet menghadirkan prilaku unsur-unsur budaya yang berupa norma, nilai, benda, moral dan simbol yang tidak jarang tidak sesuai dengan unsur budaya kita. Akibatnya jika kita tidak memiliki filter budaya, kita mudah tertipu untuk segera mengikutinya. Internet juga menghadirkan iklan-iklan, yang sudah barang tentu bertujuan merangsang kita untuk hidup tidak ekonomis.

Strategi Pemecahan Masalah
Menyadari bahwa betapa pun majunya teknologi, sebagai hasil karya manusia adalah perpanjangan bagi kemampuannya, dan bukan sebaliknya menjadikan manusia sebagai perpanjangannya. Betapa pun lompatan dan terobosan menandai kemajuan teknologi, manfaatnya harus diukur dari sejauh mana martabat dan kesejahteraan manusia terangkat olehnya, dan bukan sebaliknya berakibat pudarnya nilai-nilai manusiawi.
Untuk membantu menyelesaiakan masalah-masalah yang timbul akibat hadirnya benda-benda teknopraktis ke lingkungan kita, ada beberapa setrategi yang dapat dijadikan pertimbangan, diantaranya:
1.Untuk keluarga yang memiliki lebih dari satu komputer di rumah sangat disarankan untuk membangun jaringan komputer rumah, di mana hanya komputer pusat yang terletak di ruang publik yang memiliki CD-ROM agar pengaksesan CD-ROM ini dari kamar anak- anak dapat terawasi. Begitu pula untuk VCD player. Akhir- akhir ini dampak VCD negatif bajakan sungguh meresahkan. Hal ini diakibatkan begitu mudahnya mendapatkan VCD bajakan dan memainkannya pada sebuah VCD player sehingga anak balita pun mampu mengoperasikan untuk menyaksikan Teletubbies kesayangannya.
Begitu juga dengan internet. Akses internet harus diletakkan di ruang publik untuk mencegah anak menjadi korban predator pedofilia di internet atau perbuatan melanggar hukum yang tidak disadarinya, seperti berbagi file secara ilegal (illegal file sharing). Kita tidak bisa mencegah anak berinteraksi dengan internet karena di dalamnya banyak pula hal yang bermanfaat. Hasil penelitian terakhir pun menyatakan tak ada satu peranti lunak pun yang mampu menggantikan tugas orangtua mengawasi kegiatan anaknya di internet.
Hal ini bukan berarti untuk mencegah atau menakut-nakuti orangtua agar membatasi interaksi anaknya dengan teknologi. hal ini bermaksud mengajak orangtua untuk berperan aktif dalam melindungi anaknya dari sisi negatif teknologi. Orang tua perlu melakukan filterisasi terhadap masuknya informasi-informasi yang kurang terpuji.
Perlindungan yang diberikan bukan dengan membuat anak menjadi steril dari teknologi, tetapi immune, yaitu dengan memberikan pendampingan terhadap anak dalam berinteraksi dengan teknologi. Berikan anak sesuai dengan apa yang mereka butuhkan dan tidak berlebihan.
Seyogianya orangtua tidak bersembunyi di balik ketidakmampuan mengadopsi teknologi. Orangtua telah lebih banyak memakan asam garam hidup ini. Teknologi boleh berbeda, tetapi cara manusia menggunakannya masih sama.
Dahulu, isu mengenai seseorang berhubungan seks di luar nikah beredar dari mulut ke mulut. Biasanya beredar saat pasangan tersebut putus dan diedarkan oleh pihak yang sakit hati. Kini gosip itu beredar dalam rekaman video ataupun foto. Lebih parah lagi, internet mempercepat peredarannya.
Sekali beredar di internet, akan susah menghapusnya. Pencegahannya sungguh merupakan hal yang tidak berhubungan dengan teknologi sama sekali, yaitu pendampingan orangtua terhadap anak dalam interaksi anak dengan teknologi dan proses internalisasi nilai- nilai positif kepada anak-anak oleh orang tua.
Memang anak lebih cepat beradaptasi dengan teknologi, tetapi orangtua pun memiliki nilai lebih karena orangtua telah lebih dulu mengenyam berbagai pengalaman hidup. Kombinasi kedua hal ini akan menjamin proses mengadopsi teknologi dalam kehidupan keluarga menjadi lebih positif. Orangtua dan anak dapat meningkatkan kualitas waktu bersama dengan cara ini. Dengan demikian, orangtua akan mampu mencegah teknologi dan kejahatannya memisahkan keluarga yang dicintainya.
2. Kurangi nonton televisi,dan nikmati hidup. Mari kita kendalikan teknologi agar teknologi tidak mengendalikan kita. Betapa pun majunya teknologi, sebagai hasil karya manusia adalah perpanjangan bagi kemampuannya, dan bukan sebaliknya menjadikan manusia sebagai perpanjangannya. Betapa pun lompatan dan terobosan menandai kemajuan teknologi, manfaatnya harus diukur dari sejauh mana martabat dan kesejahteraan manusia terangkat olehnya, dan bukan sebaliknya berakibat pudarnya nilai-nilai manusiawi.
Sekitar 60 juta anak Indonesia menonton TV selama berjam-jam hampir sepanjang hari. Apa yang ditonton? Anak-anak menonton acara TV apa sajakarena kebanyakan keluarga tidak memberi batasan menonton yang jelas.
Mulai dari acara gosip selebritis; berita kriminal berdarah-darah; sinetron remajayang penuh kekerasan, seks, intrik, mistis, amoral; film dewasa yang diputar dari pagi hingga malam; penampilan grup musik yang berpakaian seksi dan menyanyikan lagu dengan lirik orang dewasa; sinetron berbungkus agama yang banyak menampilkan rekaan azab, hantu, iblis, siluman, dan seterusnya.Termasuk juga acara anak yang banyak berisi adegan yang tidak aman dan tidak pantas ditonton anak.
Bayangkan kalau anak-anak kita adalah satu dari mereka yang tiap hari harus menelan hal-hal dari TV yang jelas-jelas tidak untuk mereka tapi untuk orang dewasa. Anak-anak akan sangat berpotensi untuk kehilangan keceriaan dan kepolosan mereka karena masuknya persoalan orang dewasa dalam keseharian mereka. Akibatnya, sering terjadi gangguan psikologi dan ketidakseimbangan emosi dalam bentuk kesulitan konsentrasi, perilaku kekerasan, persepsi yang keliru, budaya ‘instan’, pertanyaan-pertanyaan yang ‘di luar dugaan’ dan sebagainya.
Hanya sedikit anak yang beruntung bisa memiliki berbagai kegiatan, fasilitas dan orangtua yang baik sehingga bisa mengalihkan waktu anak untuk hal-hal yang lebih penting daripada sekadar menonton TV. Namun jutaan orangtua di Indonesia pada umumnya cemas dan khawatir dengan isi siaran TV kita.
Kalangan industri televisi punya argumentasi sendiri mengapa mereka menyiarkan acara-acara yang tidak memperhatikan kepentingan anak dan remaja.Intinya, kepentingan bisnis telah sangat mengalahkan dan menempatkan anak dan remaja kita sekadar sebagai pasar yang harus dimanfaatkan sebesar-besarnya. Meski beberapa stasiun TV sudah mulai memperbaiki isi siaran mereka, itu tetap tidak bisa menghilangkan kesalahan mereka di masa lalu dalam memberi ‘makanan’ yang merusak jiwa puluhan juta anak Indonesia.
Pemerintah maupun institusi lain, terbukti tidak mampu membuat peraturan yang bisa memaksa industri televisi untuk lebih sopan menyiarkan acaranya. Sehingga, tidak ada pilihan lain kecuali individu sendiri yang harus menentukan sikap menghadapi situasi ini. Anggota masyarakat yang bersatu dan memiliki sikap yang sama untuk menolak perilaku industri televisi kita, akan menjadi kekuatan yang besar apabila jumlahnya makin bertambah. Penolakan oleh masyarakat yang merupakan pasar bagi industri televisi, pada saatnya akan menjadi kekuatan yang luar biasa besar.
Pengaruh Media terhadap anak makin besar, teknologi semakin canggih & intensitasnya semakin tinggi. Padahal orangtua tidak punya waktu yang cukup untuk memerhatikan, mendampingi & mengawasi anak. Anak lebih banyak menghabiskan waktu menonton TV ketimbang melakukan hal lainnya. Dalam seminggu anak menonton TV sekitar 170 jam. Apa yang mereka pelajari selama itu? Mereka akan belajar bahwa kekerasan itu menyelesaikan masalah. Mereka juga belajar untuk duduk di rumah dan menonton, bukannya bermain di luar dan berolahraga. Hal ini menjauhkan mereka dari pelajaran-pelajaran hidup yang penting, seperti bagaimana cara berinteraksi dengan teman sebaya, belajar cara berkompromi dan berbagi di dunia yang penuh dengan orang lain.
Akhirnya penulis ucapkan ”Selamat berjuang buat orang tua yang peduli pada generasi masa depan, maju tak gentar membela yang belajar”

0 komentar:

Poskan Komentar